Data Mengejutkan Densus 88: 112 Anak Terpapar Terorisme, Bagaimana Nasib Maluku Utara?
Data Mengejutkan Densus 88, 112 Anak Terpapar Terorisme--
MALUKUUTARA.DISWAY.ID - Ancaman radikalisme kini merambah hingga ke ruang privasi keluarga melalui layar smartphone.
Menanggapi urgensi tersebut, Unit Pencegahan Satgaswil Maluku Utara Densus 88 Anti Teror (AT) Polri melakukan langkah preventif dengan "mempersenjatai" para ibu dalam Rapat Konsultasi (RAKON) PKK Provinsi Maluku Utara 2026 di Hotel Sahid Bela Ternate, Senin (11/05/2026).
Fokus utama pertemuan ini adalah memberikan deteksi dini bagi orang tua untuk melindungi anak-anak dari jeratan propaganda kekerasan yang dikemas sebagai ideologi perjuangan.
Dalam pemaparan yang mengejutkan, Kanit Pencegahan/Idensos Satgaswil Maluku Utara Densus 88 AT Polri, Iptu Herry Rinsampessy, mengungkap fakta mengenai persebaran paparan terorisme pada generasi muda.
Tercatat sebanyak 112 anak di 26 wilayah di Indonesia telah teridentifikasi terpapar paham radikal-terorisme.
"Paparan radikalisme terhadap anak umumnya terjadi melalui keluarga dan propaganda media daring yang membingkai kekerasan sebagai bentuk perjuangan. Orang tua harus lebih peka terhadap apa yang dikonsumsi anak di dunia digital," ujar Iptu Herry Rinsampessy.
Anak-anak yang berada dalam rentang usia 10 hingga 18 tahun ini menjadi target empuk karena kondisi psikis yang masih mencari jati diri. Fenomena ini diperparah dengan masifnya konten propaganda di ruang digital.
Dari Meja Makan hingga Media Daring
Iptu Herry menjelaskan bahwa radikalisasi tidak terjadi secara instan, melainkan melalui proses infiltrasi yang halus namun konsisten.
Tiga Jalur Utama Paparan Radikalisme Anak:
- Lingkaran Keluarga: Penanaman doktrin eksklusif dari orang tua atau kerabat dekat.
- Interaksi Sosial: Lingkungan pertemanan yang tertutup dan menjauh dari nilai-nilai kebangsaan.
- Propaganda Online: Penggunaan narasi kekerasan yang dibingkai seolah-olah sebagai bentuk kepahlawanan atau kewajiban agama di media sosial.
Selain radikalisme, Densus 88 juga menyoroti 70 anak yang terpapar kekerasan tipe Terrorist Content Consumers (TCC) di 18 provinsi.
Hal ini dipicu oleh faktor psikososial seperti perundungan (bullying), kekerasan domestik, hingga rasa keterasingan di lingkungan sosial.
PKK sebagai Benteng Pertahanan Pertama
Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Maluku Utara, Rusni Sarbin, secara resmi membuka agenda ini dengan menekankan peran ibu adalah kunci utama dalam menangkal radikalisme.
Sinergi ini juga diperkuat dengan kehadiran Kepala Dinas PP-PA Malut, Dra. Hairiah, dan Kaprodi Psikologi Universitas Khairun, Amalia S.J Kahar.
Dra. Hairiah memberikan apresiasi tinggi atas inisiatif Densus 88 yang bersedia turun langsung mengedukasi masyarakat akar rumput.
"Pengetahuan ini sangat krusial bagi anggota PKK di 10 Kabupaten/Kota agar mampu membentengi anak-anak mereka dari kekerasan dan paham ekstrem," pungkasnya.
Sumber: