Skema Modal Ajaib Sherly-Sarbin, Siap Ubah Nelayan Kecil Jadi Juragan Samudra

Skema Modal Ajaib Sherly-Sarbin, Siap Ubah Nelayan Kecil Jadi Juragan Samudra

Skema Modal Ajaib Sherly-Sarbin, Siap Ubah Nelayan Kecil Jadi Juragan Samudra--

MALUKUUTARA.DISWAY.ID - Gubernur Sherly Tjoanda di hadapan ratusan nelayan Wasile membedah data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mengejutkan: Maluku Utara memiliki 36.000 nelayan.

Namun kemampuan finansial pemerintah daerah hanya sanggup menyediakan 200 unit kapal per tahun melalui dinas terkait.

"Ketimpangan ini adalah tantangan nyata. Jika hanya mengandalkan bantuan hibah, ribuan dari Anda harus menunggu antrean yang tidak masuk akal untuk mendapatkan armada baru," tegas Sherly.

Bersama Wakil Gubernur Sarbin Sehe, ia kini beralih ke strategi yang lebih agresif: Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Pemerintah Provinsi Maluku Utara kini membuka gerbang modal seluas-luasnya agar nelayan tidak lagi menjadi "penonton" di laut sendiri.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perikanan Malut, Fauji Momole, menjelaskan secara teknis bahwa akses KUR ini dirancang khusus agar nelayan mampu membeli kapal dan mesin berkapasitas 3 Gross Ton (GT).

BACA JUGA:Nelayan Malut Harus Naik Kelas! Gubernur Sherly Tawarkan Modal Murah

Dengan armada 3 GT, nelayan Wasile tidak lagi terjebak di pinggiran pantai. Mereka bisa melaut lebih jauh, menembus zona tangkap yang lebih kaya, dan melipatgandakan pendapatan keluarga secara mandiri tanpa harus menunggu "belas kasihan" bantuan hibah yang terbatas.

"Kemandirian adalah kunci. Kami ingin nelayan Maluku Utara naik kelas, dari skala mikro menjadi pelaku usaha yang memiliki daya tawar tinggi di pasar perikanan nasional," ujar Sherly Tjoanda.

Perlindungan yang Tak Boleh Ditawar

Namun, modal usaha hanyalah satu sisi mata uang. Di sisi lain, ada ancaman maut yang mengintai di balik setiap sapuan ombak.

Gubernur Sherly memberikan peringatan keras bahwa pertumbuhan ekonomi harus berjalan beriringan dengan keselamatan jiwa.

Ia mewajibkan para nelayan untuk segera bergabung dalam kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan.

Mengingat tingkat risiko pekerjaan yang sangat tinggi, jaminan sosial ini dianggap sebagai "pelampung finansial" bagi keluarga nelayan jika terjadi kecelakaan kerja atau risiko kematian di tengah laut.

BACA JUGA:Cuaca Ekstrem Ancam Maluku Utara, Gubernur Sherly Imbau Nelayan Jangan Melaut

Sumber: