Bongkar Isi Paket Sembako 50 Ribuan Pemprov Malut

Bongkar Isi Paket Sembako 50 Ribuan Pemprov Malut

Bongkar Isi Paket Sembako 50 Ribuan Pemprov Malut--

MALUKUUTARA.DISWAY.ID - Ditengah ancaman lonjakan harga bahan pokok menjelang bulan suci Ramadan 1447 H, Pemerintah Provinsi Maluku Utara melakukan langkah konkret yang mengejutkan warga Halmahera Timur.

Pada Kamis (5/3/2026), ribuan mata tertuju pada Desa Nusa Jaya, Kecamatan Wasile Selatan, saat unit armada pengangkut pangan murah tiba membawa "penyelamat" dompet rakyat.

Program bertajuk Gerakan Pangan Murah (GPM) ini bukan sekadar seremoni biasa. Pemerintah menyediakan 1.000 paket sembako subsidi dengan harga yang sangat tidak masuk akal jika dibandingkan dengan harga pasar saat ini.

Hanya dengan Rp50.000, warga sudah bisa membawa pulang paket lengkap berisi 5 kg beras, 2 kg gula pasir, dan 2 liter minyak goreng.

Jika dikalkulasikan, angka ini jauh di bawah harga pasar normal, yang menjadi angin segar bagi ketahanan pangan keluarga di pelosok Maluku Utara.

"Kolaborasi lintas sektoral seperti ini adalah kunci. Kami tidak ingin masyarakat merasa sendirian saat harga-harga naik. GPM adalah bentuk kepedulian nyata untuk memastikan setiap meja makan di Maluku Utara tetap terisi saat Ramadan tiba," tegas Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda.

BACA JUGA:Terobosan Gubernur Maluku Utara: Pasar Murah Terpadu untuk Sehat dan Sejahtera

Suara Hati Rakyat Wasile Selatan

Sejak mentari belum tepat di atas kepala, warga sudah memadati titik lokasi. Kehadiran program ini dirasakan sangat emosional bagi para ibu rumah tangga yang selama ini bergulat dengan anggaran dapur yang kian mencekik.

Suhartati Duko (46), salah satu warga setempat, tak mampu menyembunyikan rasa syukurnya. Baginya, selisih harga yang diberikan pemerintah sangat berarti untuk dialokasikan ke kebutuhan anak sekolah.

"Ini sangat membantu keluarga kami. Biasanya kalau mau masuk bulan puasa, harga-harga di pasar melonjak tidak keruan. Terima kasih karena pemerintah mau turun langsung ke desa kami," ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.

Apresiasi serupa mengalir dari Hawa Marajebesy (43). Ia menyebut aksi Gubernur Sherly sebagai kado menjelang hari besar keagamaan.

Namun, ia juga melontarkan harapan agar program ini tidak berhenti di satu desa saja, mengingat ketimpangan harga masih terjadi di beberapa wilayah terpencil lainnya di Halmahera Timur.

Lebih dari Sekadar Pasar Murah

Menariknya, agenda di Halmahera Timur ini tidak hanya berhenti pada transaksi jual-beli sembako.

Pemprov Maluku Utara di bawah kepemimpinan Sherly Tjoanda memanfaatkan momen ini untuk melakukan "belanja masalah" melalui dialog interaktif.

Sumber: