Kapolres Halut Instruksikan Warga dan Petani Stop Bakar Sampah dan Lahan

Kapolres Halut Instruksikan Warga dan Petani Stop Bakar Sampah dan Lahan

Kapolres Halut Instruksikan Warga dan Petani Stop Bakar Sampah dan Lahan--

MALUKUUTARA.DISWAY.ID - Merespons ancaman cuaca ekstrem, Kepolisian Resor (Polres) Halmahera Utara menerbitkan imbauan tegas kepada seluruh lapisan masyarakat untuk segera menghentikan aktivitas pembakaran sampah maupun pembukaan lahan pertanian dengan cara dibakar selama musim kemarau.

Langkah preventif ini diambil guna mengantisipasi potensi musibah Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) serta kebakaran pemukiman di wilayah Kabupaten Halmahera Utara.

Tindakan taktis ini merupakan tindak lanjut langsung atas instruksi Kapolda Maluku Utara, Irjen Pol. Arif Budiman, yang meminta seluruh Kapolres jajaran bersiap menghadapi dampak kekeringan pada Senin (27/7/2026).

Menyampaikan arahan Kapolres Halmahera Utara AKBP Erlichson Pasaribu, Kasi Humas Polres Halut Iptu Hopni Saribu menegaskan kebiasaan membakar sampah di pekarangan maupun pembakaran sisa tanaman di area perkebunan warga sangat riskan memicu kobaran api tak terkendali saat angin kencang dan cuaca terik.

"Apabila warga terpaksa harus membakar sampah, maka aktivitas tersebut wajib diawasi secara melekat. Pastikan api benar-benar padam total sebelum ditinggalkan untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak kita inginkan bersama," ujar Iptu Hopni Saribu.

Juru bicara Polres Halut tersebut menambahkan bahwa partisipasi aktif masyarakat merupakan kunci utama menjaga stabilitas keamanan dan keselamatan lingkungan selama periode kemarau.

"Atas nama Kapolres Halmahera Utara, kami sangat berharap seluruh elemen masyarakat di Halmahera Utara dapat berperan aktif mewaspadai potensi kebakaran dan menghindari segala tindakan yang memicu percikan api," lanjutnya.

BMKG Peringatkan Dampak Puncak El Nino 2026 hingga September

Kewaspadaan ekstra yang digaungkan aparat kepolisian ini sejalan dengan peringatan resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). 

BMKG mengonfirmasi bahwa fenomena El Niño menjadi pemicu utama musim kemarau tahun 2026 berlangsung lebih panjang dan jauh lebih kering dari tahun-tahun sebelumnya.

Peningkatan suhu permukaan air laut di wilayah Pasifik Tengah telah menghambat pembentukan awan hujan di sebagian besar wilayah Indonesia.

Akibat fenomena iklim ini, lebih dari 80 persen wilayah Nusantara mengalami penurun pasokan air hujan di bawah batas normal.

Puncak kekeringan yang terkonsentrasi sepanjang bulan Juli hingga September 2026 diprediksi berpotensi memanjang, sehingga memicu risiko tinggi kebakaran lahan di daerah kepulauan seperti Halmahera Utara.

 

Sumber: