El Nino Sangat Kuat Mengintai Maluku Utara, 6 Wilayah Terancam Kekeringan Ekstrem

El Nino Sangat Kuat Mengintai Maluku Utara, 6 Wilayah Terancam Kekeringan Ekstrem

El Nino Sangat Kuat Mengintai Maluku Utara, 6 Wilayah Terancam Kekeringan Ekstrem--

MALUKUUTARA.DISWAY.ID - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menerbitkan peringatan dini bagi seluruh masyarakat dan Pemerintah Daerah di Provinsi Maluku Utara. 

Puncak musim kemarau tahun 2026 yang berlangsung sepanjang Juli hingga September dipastikan tereskalasi parah akibat penguatan fenomena El Nino kategori sangat kuat.

Ancaman ini berpotensi memicu krisis air bersih berkepanjangan, kegagalan panen sektor pertanian, hingga maraknya kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Babullah Ternate, Desindra Deddy Kurniawan, mengungkapkan bahwa pemantauan indeks anomali suhu muka laut di wilayah Nino 3.4 telah menunjukkan tren penguatan signifikan.

“Anomali suhu muka laut di area Nino 3.4 saat ini sudah memasuki kategori kuat. Prediksi kami, memasuki periode Agustus hingga September 2026 intensitasnya akan meningkat menjadi sangat kuat,” tegas Desindra, pada Senin (3/8/2026).

6 Wilayah Masuk Zona Merah

Berdasarkan analisis pemantauan dinamika atmosfer BMKG, sejumlah daerah di Maluku Utara tercatat sudah mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) berturut-turut dalam durasi 31 hingga 60 hari.

Daftar Wilayah Terdampak Pengeringan Ekstrem:

  • Kabupaten Pulau Morotai
  • Kabupaten Halmahera Utara
  • Kabupaten Halmahera Barat
  • Kabupaten Halmahera Selatan
  • Wilayah Pulau Obi
  • Kabupaten Kepulauan Sula

BMKG memberi penekanan khusus bahwa apabila periode tanpa hujan di daerah-daerah tersebut menembus angka lebih dari 60 hari, maka statusnya secara resmi berubah menjadi kekeringan ekstrem.

“Jika durasi tanpa hujan melampaui batas 60 hari, kondisinya otomatis masuk dalam kategori kekeringan ekstrem dengan dampak sosial dan ekonomi yang sangat luas,” terang Desindra.

18 Titik Panas Terdeteksi di Data Sipongi

Selain defisit air bersih, fenomena kemarau terik ini mendongkrak risiko kebakaran lahan secara drastis. 

Berdasarkan data sistem pemantauan Sipongi Kementerian Kehutanan, sepanjang Juli 2026 saja telah terdeteksi sebanyak 18 titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan tinggi di daratan Maluku Utara.

Menanggapi situasi darurat iklim ini, BMKG mendesak Dinas Pertanian dan Pemda setempat untuk segera mengarahkan para petani menyesuaikan pola tanam serta mengamankan cadangan air irigasi.

Secara bersamaan, BMKG terus berkoordinasi intensif dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) se-Maluku Utara untuk memperkuat strategi mitigasi bencana hidrometeorologi kering demi meminimalkan dampak kerugian di tengah masyarakat.

Sumber: