MALUKUUTARA.DISWAY.ID - Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data yang sangat menggembirakan: total nilai ekspor Maluku Utara selama periode Januari hingga Desember 2025 menyentuh angka US$14.230,90 juta.
Angka fantastis ini menandai pertumbuhan sebesar 28,61 persen jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Tren positif ini tidak menunjukkan tanda-tanda melambat. Bahkan pada bulan penutup, Desember 2025, kinerja pengiriman barang ke luar negeri mencatatkan nilai US$1.389,89 juta, melonjak 26,09 persen dibandingkan Desember tahun 2024.
Komoditas besi dan baja (HS 72) menjadi tulang punggung utama dengan menyumbang angka US$8.919,67 juta.
95 Persen Mengalir ke Negeri Tirai Bambu
Satu fakta yang cukup mencolok adalah betapa kuatnya ketergantungan ekonomi Maluku Utara terhadap satu negara: Tiongkok.
Hampir seluruh produk besi, baja, dan nikel dikirim ke sana. Nilai ekspor ke Tiongkok mencapai US$13.593,46 juta, yang artinya menyerap 95,52 persen dari total pangsa pasar.
Statistisi Ahli Madya BPS Provinsi Maluku Utara, Evida Karismawati, menyoroti lonjakan signifikan pada beberapa sektor logam lainnya yang tak kalah mengejutkan.
"Secara persentase, lonjakan tertinggi dicatat oleh komoditas logam dasar lainnya (HS 81). Nilai ekspornya melonjak hingga 510,07 persen sepanjang Januari–Desember 2025," ungkap Evida Karismawati dalam keterangannya.
Selain Tiongkok, beberapa negara mulai menunjukkan minat luar biasa terhadap produk Maluku Utara.
Jepang mencatatkan kenaikan persentase yang sangat drastis, yakni mencapai 1.300,57 persen. Meski nilainya secara nominal (US230,57 juta.
Namun, tidak semua pasar berakhir manis. Taiwan justru mencatatkan performa buruk. Nilai ekspor ke negara tersebut terjun bebas sebesar 73,06 persen atau berkurang senilai US$54,86 juta dibandingkan tahun lalu.
Jakarta Masih Jadi Pintu Keluar Utama
Menariknya, meskipun barang diproduksi di Maluku Utara, tidak semuanya dikirim langsung dari pelabuhan setempat.
Sepanjang 2025, tercatat ada barang senilai US$554,57 juta yang dimuat melalui pelabuhan di luar Maluku Utara.
Pelabuhan di DKI Jakarta menjadi primadona pengiriman transit ini dengan kontribusi sebesar US$538,89 juta.
Hal ini menunjukkan konektivitas logistik antara Indonesia Timur dan pusat ekonomi di Jakarta masih sangat erat. Terutama untuk pengapalan komoditas bernilai tinggi ke pasar internasional.